https://sangatta.times.co.id/
Gaya Hidup

Mengapa Prediabetes Tetap Harus Diwaspadai, Ini Alasannya

Rabu, 21 Januari 2026 - 02:00
Mengapa Prediabetes Tetap Harus Diwaspadai, Ini Alasannya Tusukan jari bisa mengungkapkan kadar gula darah rata-rata Anda selama tiga bulan terakhir. (FOTO: New York Post)

TIMES SANGATTA, JAKARTA – Istilah diabetes mungkin sudah familiar, tetapi prediabetes juga harus tetap diwaspadai karena  tidak kalah bahayanya yang secara signifikan bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Diabetes adalah suatu kondisi kronis yang memengaruhi cara tubuh mengatur kadar gula darah.

Sedangkan prediabetes adalah kondisi di mana gula darah tinggi tapi belum diabetes, ditandai dengan kadar gula puasa 100-125 mg/dL atau HbA1c 5.7-6.4 persen, dan jika tidak diatasi dengan gaya hidup sehat, maka berisiko berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, Indonesia memiliki jumlah penderita prediabetes yang sangat tinggi, bahkan menduduki peringkat ketiga dunia pada tahun 2019 dengan 29,1 juta kasus, dengan prevalensi di populasi dewasa mencapai 26,3 persen menurut data RISKESDAS 2018.

Hal itu menunjukkan angka yang mengkhawatirkan dan akan terus meningkat, terutama di kalangan dewasa muda.

Kondisi itu juga peringatan dini diabetes tipe 2, karena  banyak penderita tidak menyadari gejalanya hingga berkembang menjadi diabetes. Karena itu edukasi dan perubahan gaya hidup sehat sangat penting untuk mencegah komplikasi. 

International Diabetes Federation (IDF) memprediksikan, nanti pada tahun 2030, sebanyak  398 juta penduduk dunia akan mengalami prediabetes.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, yakni kelanjutan dari Riskesdas, prevalensi prediabetes dan diabetes menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Analisis data SKI 2023 menunjukkan prevalensi prediabetes pada penduduk usia diatas 15 tahun di Indonesia mencapai 26,9 persen.

SKI 2023 memperlihatkan, bahwa 8 dari 10 orang tidak menyadari bahwa mereka berisiko atau telah mengidap prediabetes hingga diabetes.

Kejadian prediabetes sangat dipengaruhi oleh usia, kurangnya aktivitas fisik, serta obesitas sentral.

Prediabetes merupakan tahap transisi yang bersifat reversible (dapat kembali normal) jika dilakukan intervensi gaya hidup, namun bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2 yang irreversible (tidak dapat kembali normal). 

Sampai kini kondisi itu masih sangat mengkhawatirkan karena masih banyak masyarakat yang belum menyadari gejala dari prediabetes.

Menurutnya kondisi prediabetes pada dewasa muda mengindikasikan bahwa golongan tersebut sangat berisiko terserang diabetes melitus.

"Jika tidak ditangani, sekitar 70 persen individu dengan prediabetes akan berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam beberapa tahun mendatang.

Prediabetes berisiko tinggi memicu komplikasi jangka panjang, termasuk penyakit pada jantung dan gangguan ginjal jika tidak ditangani secara dini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dewasa muda mulai menjadi kelompok berisiko tinggi, terutama karena mereka mulai menjalani gaya hidup sedentari (pola hidup kurang aktif), mengonsumsi makanan tinggi kalori, dan kurang beraktivitas fisik.

Kadar gula darah yang tinggi pada akhirnya bisa menyebabkan resistensi insulin.

Tugas insulin sendiri adalah membantu glukosa masuk ke sel otot dan sel lemak, dimana glukosa tersebut digunakan sebagai energi atau disimpan untuk digunakan kemudian.

Jika insulin tidak bekerja secara efektif atau jumlahnya tidak mencukupi, maka kadar gula darah akan meningkat. Seiring waktu, hal ini bisa merusak pembuluh darah dan arteri. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Sangatta just now

Welcome to TIMES Sangatta

TIMES Sangatta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.